Pengenalan Aksara Lontara
Mari jelajahi keindahan dan makna di balik setiap guratan aksara Lontara yang menjadi warisan budaya Bugis
Apa itu Aksara Lontara?
Kata lontaraq berasal dari bahasa Bugis yang terdiri dari dua kata, yaitu raung yang berarti daun, dan taq yang berarti lontar, jadi raung taq berarti daun lontar. Disebut demikian, karena pada awalnya tulisan tersebut dituliskan di atas daun lontar. Daun lontar ini bentuknya berukuran kira-kira 1 cm lebarnya, sedangkan panjangnya bergantung dari panjang cerita yang dituliskan di dalamnya. Tiap-tiap daun lontar disambung dengan memakai benang, lalu digulung pada jepitan sebuah kayu, yang bentuknya mirip pita kaset. Cara membacanya dari kiri ke kanan.
Aksara lontaraq ini kemudian mengalami penyebutan lain sebagai aksara sulapaq eppaq wola suji yang berarti segi empat belah ketupat karena bentuknya yang segi-segi empat mirip ketupat. Istilah ini pertama kali dipopulerkan oleh Mattulada dalam disertasinya La Toa.
Struktur Dasar Huruf Lontara
Bahasa sebagai salah satu wujud kebudayaan manusia akan mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Setiap bahasa selalu mempunyai ciri dan karakter tersendiri dan apabila dituliskan harus disesuaikan antara karakter dan ciri bahasa tersebut dengan simbol-simbol bunyi yang diwakilinya secara tertulis.
Ketika bahasa-bahasa tersebut dituliskan, juga harus ada penyesuaian antara bentuk tulisan dengan sarana tulisan yang digunakan. Dalam sejarah tulisan kuno di Mesopotamia misalnya huruf-hurufnya yang disebut Cuneiform, tulisan yang digoreskan dari tanah liat, yang bentuknya mirip paku, tentu saja bentuk ini yang lebih mudah untuk sarana yang digunakan bila dibandingkan dengan bentuk lain.
Demikian pula aksara lontaraq, alat yang digunakan menulis semacam pena yang terdiri dari dua macam bentuk, yang satunya pipih memanjang untuk membuat garis, dan satunya lagi bulat untuk membuat titik-titik. Setelah itu, goresan-goresan tersebut dihitami dengan menggunakan tinta yang khusus dibuat oleh penyalin.
1. Huruf Lontara Tidak Mengenal Garis Lengkung atau Bengkok
2. Ditulis dengan Variable Tegak Lurus
3. Jika tanda titik berada di atas huruf, maka dilafalkan dengan huruf vokal i (ᨕᨗ)
4. Jika tanda titik berada di sebelah kanan bawah, maka dilafalkan dengan huruf vokal u (ᨕᨘ)
5. Jika tanda yang menyerupai huruf L terbalik dan condong ke dalam, maka dilafalkan dengan huruf vokal e contohnya ember, enak (ᨕᨙ)
6. Jika tanda yang menyerupai huruf L dan condong keluar, maka dilafalkan dengan huruf vokal o (ᨕᨚ)
7. Jika tanda yang menyerupai huruf L dan berada pada sebelah kiri atas, maka dilafalkan dengan huruf vocal é contohnya sèpatu, sèdih (ᨕᨛ)
Bentuk aksara Lontara, menurut budayawan Prof Mattulada, berasal dari “sulapa eppa wala suji”. Wala berarti “pemisah/pagar/penjaga”, dan suji yang berarti “putri”.Wala suji adalah sejenis pagar bambu dalam acara ritual yang berbentuk belah ketupat. Sulapa eppa, berarti “empat sisi”, merupakan bentuk mistik kepercayaan Bugis-Makassar klasik yang menyimbolkan susunan semesta, yakni api-air-angin-tanah. Maka dari itu, bentuk aksara Lontara sendiri berbentuk segi empat (belah ketupat). Hal ini didasari pemahaman filosofis kultural masyarakat Makassar bahwa kejadian manusia berasal dari empat unsur, yaitu butta (tanah), pepek (api), jeknek (air), dan (anging) angin.
Menurut sejarah, Lontara di Sulawesi Selatan pertama kali berkembang di wilayah Bugis yaitu kawasan Cenrana-Walannae sekitar tahun 1400 M. Aksara ini mungkin telah menyebar ke bagian lain Sulawesi Selatan, tetapi kemungkinan perkembangan aksara yang independen tidak dapat diabaikan. Yang jelas adalah bahwa catatan tertulis lontara yang paling awal yang ada buktinya adalah silsilah keluarga. Pada saat kertas tersedia di Sulawesi Selatan pada awal abad ke-17, aksara lontara yang sebelumnya harus ditulis lurus, bersudut dan kaku pada daun lontar, kini dapat ditulis lebih cepat dan lebih bervariasi dengan menggunakan tinta pada kertas. R.A. Kern, menuliskan bahwa aksara lontara termodifikasi yang memiliki bentuk lengkung yang ditemukan tertulis pada kertas tampaknya tidak ditemukan dalam naskah Bugis yang tertulis pada daun lontar yang ia teliti.
Sistem Aksara Lontara
Aksara Lontara adalah sistem tulisan abugida yang terdiri dari 23 aksara dasar. Seperti aksara Brahmi lainnya, setiap konsonan merepresentasikan satu suku kata dengan vokal inheren /a/ yang dapat diubah dengan pemberian diakritik tertentu. Arah penulisan aksara Lontara adalah kiri ke kanan. Secara tradisional aksara ini ditulis tanpa spasi antarkata (scriptio continua) dengan tanda baca yang minimal. Suku kata mati, atau suku kata yang diakhiri dengan konsonan, tidak ditulis dalam aksara Lontara, sehingga teks Lontara secara inheren dapat memiliki banyak kerancuan kata yang hanya dapat dibedakan dengan konteks.
Namun, aksara Lontara tidak mengenal hurup atau lambang untuk mematikan hurup misalnya sa menjadi s. Ketiadaan tanda-mati ini cukup membingungkan bila ingin menuliskan huruf mati. Juga, di banding aksara-aksara lain, aksara Lontara tak memiliki semua fonem. Beberapa huruf ditafsirkan secara teoretis dengan sembilan cara berbeda, dan ini juga kadang-kadang menimbulkan masalah bagi penafsiran pembaca. Maka dari itu, di masyarakat Bugis dikenal adanya elong maliung bettuanna, yakni nyanyian dengan makna tersembunyi. Misalnya kata buaja buluq (buaya gunung) merujuk pada macang (harimau). Ejaan macang sama dengan ejaanmacca (pintar), yang menjadi makna turunan dari buaja buluq.
!! Ingin tahu cara melafalkan aksara lontara dengan benar dan belajar menulisnya langsung? Gunakan fitur pelafalan dan canvas interaktif untuk latihan menulis aksara lontara secara langsung dan pastinya menyenangkan.
Aksara Lontara tak memiliki tanda baca virama (pemati vokal) sehingga aksara konsonan mati tidak dituliskan. Hal ini dapat menimbulkan kerancuan bagi orang yang tak terbiasa dan tidak mengerti akan kata yang dituliskan, Misalnya pada kata "sarang", dibaca sara'(ᨔᨑ) atau "sara" tergantung pada konteks kalimat.
Sumber: Prof. Nurhayati Rahman (Pakar Filologi Bugis) | "Sejarah dan Dinamika Perkembangan Huruf Lontaraq di Sulawesi Selatan", 2014.
Informan: Daulat Samallangi To Parao (Pegiat Literasi Bugis)